Burung Itik Benjut/ Sunda Teal, Perenang Hebat Tanpa Diajari

Burung Itik Benjut/ Sunda Teal
Burung Itik Benjut adalah salah satu burung air dari suku Anatidae. Suku yang tersebar luas dan memiliki banyak jumlah jenis. Di kawasan Sunda Besar terdapat 14 (empat belas) jenis, tujuh diantaranya adalah pengunjung pada musim dingin. Itik Benjut atau Sunda teal adalah burung perenang, mereka memiliki kaki berselaput yang berfungsi sebagai dayung pada saat berenang.  Mengenalinya cukup mudah, yaitu dari bentuk kepala yang menyerupai benjolan di dahi, adalah ciri khas dari jenis burung ini.

Deskripsi Itik Benjut

Itik Benjut dewasa memiliki tubuh berukuran sedang dengan kisaran panjang sekitar 42 cm. Bulu dominan berwarna coklat abu-abu sementara pada bagian mahkota tampak coklat gelap kemerahan. Pada bagian muka dan lehernya berwarna kekuningan, terkadang hampir putih. Pada bagian sisi dan punggungnya berwarna coklat kemerahan. Sayap berspekulum kehitaman berbaur hijau-biru mengkilap. Spekulum adalah semacam warna tambalan dan seringkali berwarna jelas. Sewaktu terbang terlihat warna bulu ketiaknya putih dan terlihat juga bercak putih di depan spekulum.

Perbedaan antara burung jantan dengan betina yaitu pada ukuran tubuh yang lebih besar dan adanya tonjolan pada tulang dahi, tonjolan inilah yang disebut dengan istilah benjut sesuai namanya. Iris matanya berwarna coklat merah, paruh abu-abu kebiruan dengan bercak kuning dekat ujungnya, kaki pendek, berselaput dan tungkainya berwarna abu-abu.

Habitat dan Kebiasaan

Burung dengan nama latin Anas gibberifrons ini biasanya dijumpai hidup dalam kelompok kecil atau berpasangan. Burung ini menyukai habitat berupa rawa mangrove, rawa payau tepi pantai, kolam, dan sungai. Di Bali burung ini biasa dijumpai di kolam dan laguna, beristirahat pada cabang pohon rendah sambil menelisik atau pada daratan disekitar perairan. Mencari makan pada daerah peraian berlumpur di sekitar mangrove. Makanan Itik Benjut yaitu berupa tanaman dan invertebrata seperti cacing, cumi-cumi, siput, keong dan lain-lain yang hidup di perairan.

Meskipun gaya terbangnya terlihat berat, yaitu berat tubuhnya seperti menggantung, sementara sayapnya terus berayun selama terbang, namun burung ini memiliki kecepatan terbang yang cukup tinggi. Agak sulit mengabadikannya dalam bentuk foto pada saat posisi terbang. Susah mendapat fokus karena warna bulunya tersamar dengan warna background yang biasanya berupa pepohonan.

Spot pengamatan untuk burung Itik benjut yang diketahui selama ini yaitu Lagoon ITDC Nusa Dua dan Pulau Serangan. Lagoon menjadi habitat Itik Benjut karena keberadaan kolam pengolahan limbah cair kawasan pariwisata Nusa Dua yang kaya akan hewan-hewan invertebrata kesukaannya, sedangkan Pulau Serangan merupakan lokasi bekas tambak yang sudah ditinggalkan oleh nelayan dan sekarang menyisakan laguna-laguna yang bila air laut pasang akan terisi dengan air laut beserta biota laut di dalamnya. Sayangnya, Pulau Serangan saat ini masih tertutup untuk kunjungan, sementara Lagoon ITDC Nusa Dua masih terbuka untuk kunjungan namun dengan perizinan dari penjaga setempat.
Material sarang Itik Benjut berupa tumpukan dari bulu halus pada lubang-lubang pohon atau celah pohon. Dalam sekali masa berbiak dapat menghasilkan telur antara 8-10 butir, telur berwarna krem, biasanya berbiak pada bulan April-November.

Itik Benjut-Fathur
Sebaran Burung Itik Benjut

Secara global, penyebaran burung ini meliputi Andaman, Sulawesi, Sunda Besar dan Nusa Tenggara. Burung ini umum dijumpai di Jawa dan Bali, juga biasa dijumpai di Sumatera Selatan walaupun belum pernah ditemukan sedang berbiak. Pernah tercatat pula di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Status Perlindungan

Dari sekian banyak anggota dari suku Anatidae, berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 tahun 2018, hanya 4 (empat) jenis yang dinyatakan sebagai satwa liar dilindungi, yaitu Boha Wasur (Anseranas semipalmata), Mentok rimba (Cairina scutulata), Trutu hijau (Nettapus coromandelianus) dan Itik Gunung (Salvadorina waigiuensis). Sementara Itik Benjut masih tergolong satwa yang tidak dilindungi Undang-undang. Namun IUCN telah memasukkan Itik Benjut/ Sunda Teal (Anas gibberifrons) dalam kategori Near Threatened (NT), artinya burung ini dinilai hampir terancam.






Post a Comment for "Burung Itik Benjut/ Sunda Teal, Perenang Hebat Tanpa Diajari"